Jumat, 31 Maret 2017

"Be the most useful moslem"

"Be the most useful moslem"


Di perjalanan komuter malam ini, di lini masa sebuah media sosial saya melihat artikel dengan judul "Jika anak sekolah terlalu dini" karya seorang psikolog kondang.

Bukan pertama kalinya memang saya menemukan artikel ini, tapi kali ini saya tergoda untuk mengisi waktu merefleksi diri dengan menulis tanggapan saya terhadap artikel ini.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

Menanggapi artikel ini mungkin ada yang langsung tercetus, pro atau kontra?
Buat saya bukan masalah pro atau kontra.

Kembali ke hadist di atas, untuk mengetahui kondisi yang seperti apakah yang membuat kita lebih bermanfaat untuk manusia? Hanya hati nurani dan takdir Allah yang berasal dari doa-doa yang kita panjatkan sebagai cerminan intuisi kita lah yang menjawab.

Pada saat intuisi saya berkata, saya punya skill yang cukup, untuk bekerja di luar rumah dan memanage waktu, dan akan lebih bermanfaat bila saya bekerja, saya bisa perdalam ilmu agama dari pekerjaan saya, bisa berbagi ilmu ke orang lain, mengambil bagian dalam mengembangkan perekonomian islam, bisa menyenangkan orang tua saya, bersedekah lebih banyak, dan mungkin berbagai manfaat yang lain, maka saya berdoa, "semoga Allah memudahkan saya bekerja, melindungi anak saya selama saya tinggal, dan selama dia "tempat bermain", melindungi lahirnya, melindungi batinnya" yaa... tempat bermain, bukan sekolah. Tapi sebagai bahan awareness, bermanfaat juga artikel ini supaya kita perhatikan bagaimana aktivitas di kelompok bermain anak-anak kita apakah anak kita benar bermain atau belajar?

Mungkin saya bukan seorang psikolog, tapi saya coba berlogika saja, saya lihat anak saya happy dan semangat pada saat mobil jemputannya datang setiap pagi, sama ekspresi "happy"-nya dengan kondisi saat diajak bermain di playground di mall misalnya, insyaAllah itulah jawaban doa-doa saya, anak saya happy dan tidak ada masalah.

Dengan kondisi saya tentunya pilihannya adalah memasukkan anak ke "kelompok bermain" (catat : bukan tempat belajar) untuk dapat bermain secara terarah dan bermanfaat untuk perkembangannya, daripada di rumah dengan nanny yang tidak punya skill khusus dalam hal mengarahkan anak. Di sana anak saya bermain angka, bermain huruf, dan dia tidak pernah merasa dituntut untuk harus bisa.

Mungkin ibu lain ada yang merasa skill nya tidak cocok bekerja di luar rumah. Lebih cocok di rumah untuk memasak, membuat kue, membimbing anak, bermain dengan anak, sehingga menurut ibu lain anaknya akan tumbuh lebih optimal bila ibu di rumah. Selain untuk anak, dengan di rumah ibu akan lebih bermanfaat untuk orang tuanya, misalnya lebih sering berbincang dengan orang tua, atau menelpon, mendengar curhatnya, memasak, menemani belanja dan yang lain.

Dengan kondisi ibu itu tentunya sesuai yang lebih baik yang ditulis di artikel itu pilihannya adalah anak di rumah saja bermain dengan pengawasan dan pengarahan ibu.

So, just believe in your self and dont let anyone nor any article let you down.

Jangan "baper" 😄

Mungkin artikel-artikel tertentu bukan ditujukan untuk kondisi kita bu, kita aja yang terlalu "pede", merasa sok disindir sama artikel dan jadi "baper". Mungkin beberapa artikel ditulis sebagai bahan renungan untuk para ibu yang kondisinya beda dengan kita.

Belajarlah terus untuk mengasah dan mempercayai intuisi kita. Allah menciptakan manusia dengan masing-masing kelebihan dan kekurangan, tugas kita lah untuk mengasah dan berintuisi dalam membuat keputusan.

Dari salah satu artikel yang pernah saya baca, intuisi adalah yang membedakan antara seorang "top leader" dengan para pemimpin yang lain.

One of the primary reasons top leaders are able to make tough decisions is because they have learned to trust their intuitive instincts. Bill Gates says, "Often you have to rely on intuition."

The facts are great, and we need them, but sometimes it boils down to what we feel in our gut. Facts are the "math" of decision-making while intuition is the "art." 

Finally, use your intuition and be the most useful of you.

Rabu, 29 Maret 2017

Book review month 5 : "Ini Lho KPR Syariah" by Ahmad Ifham

"Ini Lho KPR Syariah" by Ahmad Ifham


Selama tahun 2017 ini masih baca buku meskipun nggak kesampaian nulis resensinya.

Libur nyepi kali ini biar produktif coba nulis lagi. Kata Stephen Covey harus "Sharpen the saw" supaya gergaji kita nggak tumpul.

Seperti biasa, pertama yang dilihat pasti latar akademi penulisnya. Satu almamater sama saya, ilmu psikologi, hal seperti ini lah yang terkadang membangun optimisme saya, kuliah yang berbeda dengan pekerjaan kita justru bukan sebagai penghambat tapi malah memperkaya keilmuan kita.

Buku ini lebih kaya dari judulnya. Meskipun judulnya KPR Syariah, tapi begitu dibuka, di bagian awal merefresh lagi dari mana sih dana KPR bank syariah? Kita diajak berlogika, dan bisa menemukan dengan mudah benang merah perbedaan antara konsep konvensional dengan syariah. Dari harfiahnya saja, sumber dana konvensional adalah dari tabungan, simpanan, dana yang disimpan dan dijanjikan "manfaat" yang pasti, entah bagaimana caranya. Sedangkan syariah dananya adalah dari investasi shohibul maal a.k.a pemilik dana kepada mudharib a.k.a pengelola dana, sehingga akadnya disebut mudharabah. Bagaimana pengelola dana memutar uangnya? Dengan dagang, dagangnya bisa dengan skema murabahah a.k.a jual beli, atau syirkah a.k.a bekerjasama dalam pembelian suatu aset, dan memperoleh pendapatan dari menyewakan aset tersebut. Hasil dagang dalam bentuk selisih harga dari jual beli atau pendapatan sewa itulah yang selanjutnya di "bagi hasil"kan kepada para shohibul maal.

Di buku ini juga dijelaskan konsep bay' al 'inah, transaksi yang mengada-ada yang mendekati riba.
Konsep ta'widh atau denda yang tidak dilarang. Konsep wakalah, wa'ad atau janji, dan banyak lagi yang dijelaskan dalam contoh case yang mudah dicerna.

Namun ada kalanya saya perlu membaca beberapa case dengan diulanh dan diulang lagi supaya benar-benar faham. Di saat-saat tertentu saya sadar bahwa otak saya perlu berhenti sejenak untuk dikosongkan dulu sebelum diajak mencerna lagi. Kita sebagai manusia kadang terlalu sombong karena merasa ilmu kita sudah banyak, padahal justru kesombongan itulah yang menghalangi ilmu yang lain masuk ke otak kita.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam)” (HR Bukhari no. 2948 dan Muslim no. 1037)

Semoga kita semua selalu diberikan petunjuk oleh Allah untuk memahami agama Islam ini dan mengamalkannya.

Senin, 26 September 2016

Ber[sama DBD]-Lebaran di Rumah Sakit

Siapa tidak tahu demam berdarah dengue a.k.a DBD?

Sewaktu saya masih di usia SD, keluarga kami tinggal di suatu perumahan di pinggir kota jogjakarta. Di sanalah pertama kali saya mengenal DBD, penyakit yang merenggut nyawa anak salah seorang warga, anak kecil yang waktu itu usianya beberapa tahun di bawah saya.

Kurang lebih 25 tahun kemudian, saya harus menghadapi suatu kenyataan bahwa anak saya terkena penyakit tersebut. Ya, DBD. Diindikasi dari hasil cek darah NS1 Antigen (dengue) positif

Saya tidak akan menceritakan bagaimana secara detail penyakit tersebut menyerang alya, intinya seperti yang dapat ditemui pada berbagai sumber, trombosit atau platelet alya turun terus sampai dengan hari ke-5 setelah hari pertama terindikasi positif DBD. Pada hari ke-6 baru naik dan dibolehkan pulang dari RS. Bersamaan hasil cek lab indikasi positif DBD, waktu itu trombosit masih di 194rb, mencapai titik terendah pada hari ke-5 102rb dan pada hari ke-6 naik di 108rb Pada hari ke-10 kami cek lagi dan trombosit sudah di atas 150rb.

Sekedar berbagi aja barangkali ada sesama parents yang belum move on dari merutuki nasib, "anak saya pernah kena DBD", hikmah yang dapat diambil dari ujian DBD plus sekaligus pada saat lebaran, insyaAllah :

1. Bisa ber empati sama sesama parents yang anaknya terkena DBD. Tidak pernah menyalahkan, karena saya pun bingung kapan dan dimana anak saya terkena gigitan nyamuk, sementara alhamdulillah adiknya sehat.

2. Bisa berbagi tips dengan parents yang anaknya terkena DBD. Bagaimana menjaga kesabaran, bagaimana menjaga asupan anak supaya stabil selama trombosit turun, apa saja asupan yang dapat dicoba untuk membantu menaikkan trombosit.

3. Untuk parents yang pernah merayakan lebaran di RS, InsyaAllah tahun-tahun selanjutnya lebih memaknai hari-hari terakhir ramadhan dan hari raya dengan cukup berkumpul di rumah, beribadah, makan sahur dan berbuka di RUMAH bersama keluarga. Ceritanya kemaren meski dalam kondisi alya divonis positif dbd, demi birrul walidain, kami tetap mudik, tapi boro-boro rekreasi atau wisata kuliner, 6 hari terakhir ramadhan kemarin kami habiskan di rumah sakit menemani alya. Beda seperti tahun sebelumnya, setiap sore menjelang buka puasa selalu sibuk mencari ide kuliner 🙈
Tahun depan insyaAllah kami tidak terlalu sibuk dengan urusan duniawi yang tidak pas waktunya. Saat alya sakit kemarin barulah benar-benar habiskan waktu untuk tadarus menjelang buka puasa, Manusia memang tempatnya lengah dan lupa, apalagi di saat sehat dan senang hatinya; alhamdulillah Allah begitu baiknya mengingatkan kami.

4. Semakin bisa mensyukuri semua taqdir Allah adalah yang terbaik. Di malam takbir saya bersama alya di rumah sakit menikmati suara takbir dan terkadang percikan kembang api. Pupus sudah harapan untuk ikut sholat ied setelah pada sore hari itu hasil cek darah masih menunjukkan nilai trombosit yang masih turun. Masih bertanya-tanya dalam hati sebanyak apa dosa saya, rasanya berat sekali hukuman ini... sampai-sampai saya tidak boleh ikut sholat ied sama Allah.
Namun setelah saya renungkan lagi... Allah begitu baik menakdirkan saya harus menemani anak saya di rumah sakit selama saya LIBUR bekerja. Entah bagaimana kisahnya bila alya sakit pada saat bukan tanggal-tanggal liburan, pasti akan repot sekali kami mengatur jadwal jaga. Dan tentunya menguras energi.
Tepat di hari raya idul fitri, yang menurut beberapa kajian disebut sebagai hari kemenangan, alhamdulillah Allah seolah "memenangkan" doa kami, trombosit alya akhirnya naik dan boleh pulang dari RS.

Semoga bermanfaat dan menginspirasi yaaa...

Minggu, 04 September 2016

Book review month 9 : Cabin Notes

Cabin Notes by Pratiwi Hidayat

Setelah 5 bulan tidak achieve target... akhirnya bulan ini berhasil pilih buku yang ringan aja... yang penting dibaca sampai tuntas #pfiuuuh...

Waktu kecil salah satu cita-cita saya adalah jadi pramugari. Mungkin karena saya tidak dilahirkan dari keluarga yang kaya raya... jadi... "naik pesawat" dulu adalah cita-cita saya. Rasanya ga mungkin banget bisa naik pesawat karena harga tiketnya pasti mahal sekali. Karena itulah mungkin melihat profesi pramugari rasanya asik sekali... bisa naik pesawat, dibayar pula, keliling dunia. Tapi waktu itu saya berfikir sepertinya tinggi badan pas-pas an... ya sudahlah. Makanya sampai saat ini saya masih selalu tertarik dengan yang berbau-bau naik pesawat.

Saat lihat judul buku ini, saya intip isinya... isinya kisah2 inspiratif dari yang dialami penulis langsung atau orang2 di sekitarnya. banyak ayat qur'an dan hadist. Ternyata pramugari yang menulis buku ini adalah seorang muslim. Namun banyak juga quote general, jadi buku ini seimbang.

Buku ini meluruskan pandangan sebagian orang yang berfikir bahwa profesi pramugari identik dengan kehidupan bebas dan glamour. Beberapa pramugari juga sholat di udara, menjalankan kewajibannya sebagai muslimah.

Penulis menceritakan beberapa kisah orang-orang yang dimulai atau mengalami musibah di tengah jalan. Dan musibah tidak perlu disesali. Bahkan kepada "penjahat" yang menyebabkan musibah pun sebisa mungkin jangan dianggap sebagai orang jahat... namun berfikirlah bahwa dia orang yang sedang sulit... atau menyulitkan kita... dan doakan, karena janji Allah itu pasti. "Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan"

Kuncinya adalah ikhlas. ikhlas dalam menerima kondisi baik dan buruk, mudah atau sulit. Ada satu bab yang menarik... ketika ikhlas dikisahkan seperti QS Al Ikhlas, dimana tidak ada satupun kata "ikhlas" di dalamnya.

Selain itu banyak kisah hikmah yaitu balasan Allah ketika seseorang menerima cobaannya dengan ikhlas, orang yang menjalani takdirnya dengan ikhlas, keajaiban penerbangan haji, dan juga orang yang tidak ikhlas membantu.

Hal yang bisa digarisbawahi adalah seperti hal nya pesawat yang pada saat akan take off harus punya tujuan yang jelas dan secara prinsip tujuan team pada setiap flight adalah sama yaitu menjamin keselamatan penerbangan, demikian juga hidup. Sebagai seorang muslim harus berpegang teguh pada prinsip... dalam hal ini adalah misi utamanya di dunia yang ada 3 yaitu beriman, beribadah dan berilmu yang bermanfaat untuk sesama. Dan hal lain yang berulang kali diingatkan oleh mba Tiwi adalah jangan sombong dan tetap bersyukur.

Buku ini juga menyisipkan fakta-fakta unik seputar dunia penerbangan. Seperti apakah pesawat bisa mundur, kenapa pada saat take off dan landing lampu redup, apakah pilot dan copilot makan makanan yang sama, apa yang dilakukan pramugari saat take off, dll.

Ringan tapi touchy...
Nice writing...

Sabtu, 02 Juli 2016

H.i.j.r.a.h

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah: 218)

Hijrah secara umum artinya meninggalkan segala macam bentuk kemaksiatan dan kemungkaran, baik dalam perasaan (hati), perkataan dan perbuatan. Namun secara khusus adalah pindahnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan para sahabatnya dalam rangka menyelamatkan iman dan Islam serta membangun peradaban baru di tempat baru.

Makna Hijrah akan selalu hidup dalam diri orang-orang yang beriman. Hidup karena mereka selalu menghayati nilai-nilainya dan mengamalkan pesan-pesan moralnya.

Tahun 2016 ini adalah tahun ke-10 saya berkarya di bidang perbankan konvensional.

Sejak memulai berkarya di dunia perbankan, saya tidak pernah berhenti berikhtiar untuk pindah ke unit syariah, saya menjaga korespondensi dengan staff unit syariah dan teman-teman yang bekerja di bank syariah. Berkali-kali saya melakukan diskusi ataupun interview. Selain itu saya juga selalu berupaya untuk mengingat menyelipkan doa untuk bisa hijrah ke perbankan syariah di setiap sholat saya.

Selain menjaga korespondensi dengan staff, saya juga selalu mengupayakan untuk memberikan support maksimal pada bisnis syariah. Selama saya masih di unit konvensional, saya selalu meniatkan diri bahwa seluruh task yang saya lakukan adalah sebagai pembelajaran, bekal untuk kelak saya join sebagai syariah banker.

Tahun demi tahun berlalu dan tingkat demi tingkat jenjang karir saya pun bertumbuh. Saya semakin berfikir bahwa waktu saya semakin mepet. Semakin bertambah usia saya artinya semakin ke arah tidak produktif, dan semakin meningkat karir saya di konvensional maka semakin mahal "biaya" saya, 2 hal tersebut menurut saya berpotensi memperkecil peluang saya untuk join di syariah banking. Tanpa adanya experience bekerja di perbankan syariah, saya juga tidak yakin dapat menjalankan peran yang sama pada posisi middle management, itulah mengapa saya segera ingin join di perbankan syariah mumpung saya masih pada posisi staff biasa.

Dua tahun terakhir ikhtiar saya semakin saya tingkatkan. Saya coba memantaskan diri untuk merayu Allah dan meminta belas kasihNya. Saya coba tertibkan lagi puasa senin kamis, sholat duha, dan membaca 3 surat pilihan setiap hari yaitu Ar Rahman, Al Waqiah dan Al Mulk. Selain itu Allah memberi hidayah sehingga saya menyukai pakaian syar'i. Untuk sosial, saya coba istiqomah aktif pada majlis taklim ibu-ibu cluster, meskipun hanya sebatas bantu-bantu menginisiasi jadwal dan menyiapkan undangan.

Tahun 2015 adalah tahun yang cukup sulit untuk bisnis, di perusahaan saya khususnya. Target tidak achieve, dapat bonus atau tidak pun kami pasrah. Namun selama tahun tersebut saya berhasil meniatkan diri untuk menabung ONH secara rutin tiap bulan. Dan dengan niat yang kuat untuk menjadikan keinginan duniawi jadi yang ke sekian, serta dengan prinsip "kaya sebelum miskin dan sehat sebelum sakit", pada awal tahun 2016 ini saya (dan suami) mendaftar ibadah haji. Pada saat itulah keajaiban mulai terjadi.

Bila seorang hamba mendekat kepada-Ku (Allah) sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan bila dia mendekatiku dengan berjalan, maka Aku mendekatinya dengan berlari.“ (HR Bukhari)

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya (mencukupkan keperluannya)." (QS. Ath-Tholaq: 2-3)

Persis pada H-2 sebelum jadwal saya cuti untuk mendaftar haji ke Depag, tiba-tiba sebuah pesan masuk dari seorang kawan lama, menginformasikan bahwa ada salah satu bank syariah (bahkan Allah memberi lebih dari baik karena ini bukan sekedar unit usaha syariah) yang sedang mencari staff dengan spec yang saya miliki. Hari itu pun saya langsung mengirimkan CV via email sesuai alamat yang diinfo.

Malam harinya, saya diundang interview, besok. Namun karena saya sudah menjadwalkan cuti pada hari lusa-nya, saya menawarkan untuk interview sekaligus pada hari cuti tersebut. Alhamdulillah tawaran saya diterima. Maka setelah pagi hari ke Depag dan siang mengantar anak kegiatan sekolah, sore harinya saya memenuhi janji rangkaian interview saya yang pertama.

Alhamdulillah setelah beberapa interview lanjutan, pemenuhan dokumen dan beberapa proses, saya dinyatakan lolos untuk join di bank syariah tersebut.

Hijrah berawal dari suatu hidayah... setelah diberi kesempatan, hijrah menjadi sarat dengan amanah. Tujuan saya menulis kisah ini semoga tidak dianggap sebagai takabur... hanya sekedar berbagi, semoga dapat menginspirasi dan menambah motivasi... karena saya yakin sebagian dari teman-teman pasti juga sudah memiliki keinginan hijrah tapi belum diberikan kesempatan. Semoga tetap diberikan hidayah... tetap semangat.

Dan untuk yang sudah berhijrah seperti saya semoga dapat lebih memaknai hidup menjadi lebih nermanfaat dengan berdakwah, mengajak masyarakat ber-banking secara syariah dan yang paling utama selalu istiqomah... karena walaupun baru join seumur jagung sebagai praktisi perbankan syariah saya meyakini dengan pasti bahwa tidak mudah untuk bertahan di jalan dakwah.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (At-Taubah: 111)

Tidak mudah untuk bertahan di jalan dakwah, karena itulah Allah swt telah menyiapkan balasan yang besar bagi siapa saja yang dengan tulus ikhlas tetap istiqamah berjuang dijalan Allah. Allah swt telah menyiapkan surga untuk mereka yang dengan ikhlas menginfaqkan harta dan jiwanya dijalan Allah.

Yang mesti kita pahami bersama, sejatinya ujian dan cobaan yang diberikan oleh Allah swt itu adalah proses “screening” yang dilakukan oleh Allah swt. Ujian dan cobaan adalah “seleksi” tersendiri yang dilakukan oleh Allah swt untuk melihat siapakah di antara hamba-Nya yang memiliki kualitas amal terbaik.  Dan di surat lain, Allah swt juga menegaskan bahwa ujian dan cobaan yang diberikan itu untuk membuktikan keimanan seseorang.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al-Baqarah: 214)

Penutup :
Hijrah saya pun ternyata juga secara harfiah, yaitu berpindah lokasi kantor, yang mengharuskan saya berpindah moda transportasi dari kendaraan pribadi menjadi kendaraan umum, resmilah saya bergabung menjadi 'roker' rombongan kereta :)




Sabtu, 26 Maret 2016

Book review month 3 : #NasihatDiri by Teddi Prasetya

#NasihatDiri
Untuk Para Pekerja

By Teddi Prasetya Yuliawan

Buku motivasi yang selanjutnya setelah bulan lalu saya baca BATIC

Lagi-lagi buku ini adalah hadiah. Hadiah yang pas sekali di tengah kondisi ekonomi saat ini; di saat para pekerja harus tetap bersyukur dengan hasil yang mungkin kurang sesuai dengan yang diharapkan ^_^

Berbeda dengan BATIC yang penulisnya senior semua... buku ini ditulis oleh "junior" saya... masih se almamater meskipun beda jurusan.

Meskipun tidak ada "tanda-tanda" islami di judul atau cover... ternyata buku ini bernafaskan islam.

Buku ini mencatat 100 nasihat, maka untuk review kali ini dari 100 nasihat yang dicatat oleh penulisnya, saya coba ambil 5 yang paling menarik untuk saya.

#Memilih makna
Nasihat pertama... memilih makna... bermakna... berarti... bermanfaat. Meskipun tidak ditulis pada bagian ini, namun nasihat pertama ini menurut saya sangat erat kaitannya dengan prinsip dasar hidup seorang muslim, yang pada salah satu hadist disebutkan "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalamShahihul Jami’ no:3289).

#Garis itu bernama keberanian mencoba
#Niatlah pembedanya
Dua nasihat ini berurutan. Menurut saya keduanya saling terkait. Pada saat kita yakin bahwa kita punya niat baik untuk dunia dan akherat... maka beranilah... kita tidak perlu takut. InsyaAllah semesta akan mendukung.

#Tinggalkan jejak kebaikan
Nasihat ini menarik karena senada dengan quote favorit saya. "Goodness is the only investment that never fails." - Henry David Thoreau quotes. Kutip dari chapter ini... "Sebab memang janji-Nya akan menambahkan ilmu tak disangka-sangka kepada insan yang rajin mengamalkan sebuah ilmu" insyaAllah.

#Ia pun rindu kepadamu
Ini adalah nasihat ke-100 yang mak-jleb sekali. "Jikalau engkau hanya mendekati-Nya ketika dalam kesulitan, jangan heran jika kesulitan akan semakin sering menimpamu. Jikalau engkau sering lari padaNya kala dalam kebahagiaan, jangan heran jikan kebahagiaan akan senantiasa meliputimu. Sebab di balik kekuasaanNya, Ia pun rindu padamu"
Yang terakhir ini mengingatkan kita untuk senantiasa beribadah secara maksimal dalam kondisi apapun.
Tetap semangat!





Kamis, 03 Maret 2016

Panggilan Ke-2

Dari beberapa artikel islam yang saya baca, ada yang menyebutkan, setidaknya Allah SWT memanggil hamba Nya sebanyak 3x, yaitu :

1. PANGGILAN SHALAT KETIKA ADZAN
Sahabat Ibnu Abbas adalah orang yang sering menangis manakala mendengar panggilan adzan bergema. Sorbannya sering basah oleh tetesan air matanya yang terus mengalir mengiringi aluanan suara sang muadzin.
Ketika ditanya kenapa sampai begitu? Ibnu Abbas menjawab seandainya setiap orang tau makna seruan sang muadzin itu, pasti tidak akan dapat beristirahat dan tidur dengan nyenyak. Kalimat Allahuakbar saja mengandung makna panggilan kepada orang yang beriman yang sedang sibuk mengurusi harta duniawi agar berhenti sejenak mengistirahatkan badan dan segera beramal demi meraih kepentingan dan kebahagiaan yang hakiki

2. PANGGILAN HAJI
Firman Allah : " Dan berseterulah kepada manusia untuk mengerjakan haji niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang datang dari segenap penjuru" (QS AL-Hajj (22):27)
Oleh karena itulah mereka yang menunaikan ibadah haji menjawab seruan itu dengan kalimat talbiyah : Labbaika Allahuma Labbaik, Labbaika la syarika laka labbaik, inal Hamda wanni mata laka wal mulk la syarika laka yang artinya Aku penuhi panggilan-MU ya Allah, aku penuhi, aku penuhi panggilan-MU tiada sekutu bagi-MU. Aku penuhi panggilan-MU. sesungguhnya segala puji nikmat dan kekuasaan hanyalah milik-MU semata. Tiada sekutu bagi-MU

3. PANGGILAN KEMATIAN
Manusia sering kali menunda nunda panggilan adzan, begitu juga ketika panggilan haji telah tiba. Ia belum tergerak untuk memenuhinya walau sudah mampu sekalipun. Tapi, terhadap panggilan yang satu ini tak ada satupun yang sanggup menghalanginya apalagi menundanya.
Firman Allah "Dan Allah sekali kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah maha mengetahui apa apa yang kamu kerjakan" (QS Al-Munafiqun(63):11)
Dengan penuh kesadaran diri dan keinsyafan iman marilah kita penuhi panggilan Allah berupa shalat ketika adzan memanggil, berhaji bagi yang mampu, dan demikian pula halnya dengan panggilan kebaikan-kebaikan lainnya. sebelum datang panggilan yang tidak dapat ditawar tawar lagi, yaitu Kematian.

---

Alhamdulillah tahun ini Allah memberikan hadiah spesial menjelang ulang tahun saya... yaitu kemudahan untuk saya dan suami meniatkan diri untuk memenuhi panggilan Nya, yang ke-2. #syukur

Catatan ini semoga bukan dinilai sebagai riya atau apa... apalah yang bisa disombongkan dari kami, manusia-manusia kecil yang sehari-harinya beraktivitas di tower tinggi dan bayangkan kalau Allah sewaktu-waktu menyentil tower itu; hanya bisa berikhtiar dan bersandar pada doa, karena Allah yang maha menentukan segala sesuatu. #tendensi

Catatan ini niatnya untuk sekedar nambah wawasan buat yang baca aja, karena saya sempat cari info daftar haji dari baca beberapa blog juga dan menurut saya bermanfaat banget, selain itu untuk memotivasi aja... syukur2 ada yang tergerak setelah baca tulisan ini ^_^ #inspirasi

Ada sebuah buku yang pernah saya baca, yang mengingatkan bahwa haji adalah rukun islam yang ke-5 , tapi beberapa orang (termasuk saya), terjerembab juga, contohnya saya yang orang rantau (ngeles.com) menjadikan haji sebagai rukun islam yang ke 7 atau ke 8 ya... setelah nge-DP rumah (meski kecil), mobil (meski seken), dan (bisa jadi) liburan ke luar negri, sungguh sebuah kesadaran yang terlambat. #realita

Beberapa minggu lalu saya bercerita ke salah seorang teman tentang pendaftaran haji ini, ternyata teman saya kurang faham bahwa untuk membuka tabungan haji tidak perlu kita punya full dana sebesar BPIH 1 , yaitu rp 25 jt / kepala, atau rp 50 jt / 2 kepala. Padahal nggak lhooo.... Dan dia juga terkejut mendengar berapa lama masa antrinya (berapa lama? sabar ya, nanti dulu). Makanya saya coba buat catatan di sini barangkali ada yang mampir, karena sebagian orang mungkin lebih suka "kepo" in catatan orang lain daripada "kepo" in web kemenag ^_^ #ternyata

Jadi ceritanya... waktu itu sekitar akhir tahun 2014, ada petugas bank kasih tau reksadana di rekening saya dananya sudah mencapai rp 25 jt; akhirnya saya request untuk cairkan, niatnya buat daftar haji entah gimana caranya waktu itu belum kepikir (biasa... ibu rumah tangga jabatannya menteri keuangan meskipun kurang jago bikin perencanaan anggaran). Uangnya masih kurang rp 25 jt lagi untuk daftar haji 2 (dua) orang (dengan suami tentunya). Anak saya yang besar sudah masuk SD, yang kecil insyaAllah masih 3 tahun lagi masuk SD, jadi uang daftar sekolah insyaAllah masih bisa tabung-tabung lagi. #niat

Pertama-tama yang terlintas di kepala saya adalah minta ijin orang tua saya... apakah boleh uangnya saya gunakan untuk mendaftar, karena saya rasa2nya tidak akan pernah cukup membalas hutang budi... kedua orang tua yang senantiasa mendoakan saya sejak di dalam kandungan sampai sekarang, melahirkan dan membesarkan saya. Barangkali mereka punya keinginan lain yang bisa saya bayar dengan sejumlah uang itu. Alhamdulillah orang tua merestui niat saya. #bakti

Setelah memperoleh info tentang dana talangan haji, hampir saja saya daftar program dana talangan haji dari suatu bank; namun belum sempat saya daftar, programnya sudah diberhentikan oleh pemerintah. #jalan

Dari suatu event sharing session tentang Ibadah Haji yg pernah saya hadiri, sangat betul dikatakannya, bila sudah niat, bukalah rekening tabungan haji dulu, berapapun dana yang kita punya. Memang mungkin menyimpan aset dalam bentuk investasi saham, deposito, logam mulia, atau yang lain memungkinkan return yang lebih besar, namun potensi kita tergoda mengkonsumsi untuk keinginan lainnya juga sangat tinggi. Beda dengan bila dana sudah kita setor ke rek tab haji, maka kita tidak akan menggunakannya lagi karena rek tab haji pada umumnya tidak dapat dilayani transaksi penarikan dana. #nafsu

Akhirnya setelah membulatkan tekad, pada awal tahun 2015 saya buka rekening tab haji di salah satu bank swasta (saat ini tidak hanya di bank pemerintah, sudah ada bank swasta syariah yang bekerjasama dengan kemenag untuk tabungan haji) sudah pasti 2 account, a.n saya dan suami, karena tab haji harus dibuka masing2 a.n calon jamaah haji.
Saya langsung setor dana ke masing2 rekening @rp 12,5 jt, sesuai uang yang saya punya waktu itu. #action

Saya niatkan setiap bulan akan saya sisihkan rp 2 jt untuk disetor ke rek tab haji ke masing2 rek @rp 1 jt, dengan demikian maka secara kalkulasi, pada awal tahun 2016 BPIH 1 sebesar rp 25 jt per rekening sudah terpenuhi sehingga kami bisa mendaftar. #tertib

Alhamdulillah Allah memberi kemudahan. Setelah terkumpul dananya rp 25 jt di masing2 rek, awal Februari 2016 lalu, karena untuk pendaftaran calon jamaah haji harus datang langsung dan tidak dapat diwakilkan, kami mengambil cuti kantor, guna mendaftar ke kantor Kemenag. Kantor Kemenag Tangerang Selatan, saat ini lokasinya di cluster Kencana Loka BSD. #finally
Tips : Jangan lupa cari info yang pasti terkait lokasi kantor kemenag, karena saya sempat salah info kantor kemenag tangsel ternyata sudah pindah, sedangkan pada saat browsing awal yang saya dapati info lokasi kantor lama.

Apa saja yang dibawa?
- Copy KTP
- Copy KK
- Copy Buku Nikah
- Copy Akta Lahir
- Copy Print out Buku Tabungan yang memuat info saldo (minimum Rp 25 Jt per rekening)
(Siapkan masing-masing 1 bundel dok tersebut untuk 1 pendaftar calon jemaah haji) #syarat

Di kantor kemenag, petugas meminta kami mengisi form pendaftaran yang berisi data-data umum dan ciri fisik. Setelah itu cap jari, dan foto, karena saya memilih untuk foto di kemenag daripada foto sendiri khawatirnya tidak sesuai persyaratan. Tentu saja dikenakan biaya foto ya... #prosedur

Bila tidak keberatan bayar biaya foto di kemenag, pakailah baju selain putih, karena foto berlatar belakang putih. Siapkan biaya foto @90rb per orang, akan diperoleh CD master file foto, dan puluhan print out foto sesuai kebutuhan. Bila ingin foto sendiri silahkan cek syaratnya ke web kemenag. File foto harus disimpan baik-baik karena pada saat akan berangkat naaaantiii... (panjang karena masih lama) bila dibutuhkan tambahan foto, harus dengan foto yang sama, tidak boleh ganti foto. #cekrek

Waktu itu kami datang sekitar jam 8 pagi, karena kami antrian pertama, sekitar jam 9.30 urusan sudah selesai. Setelah proses di kemenag selesai, diperoleh lembar "Surat Pendaftaran Pergi Haji". Selanjutnya kami harus membawa surat tersebut ke bank dimana tabungan haji kami dibuka, untuk proses setoran biaya haji ke Kemenag. #bukti

Setelah proses di bank dilakukan, kami memperoleh lembar "Setoran Awal BPIH". Lembar tersebut sudah mencantumkan nomor porsi di sisi kiri atas, dan nomor itulah yang dapat diinput ke web kemenag untuk mengetahui prediksi tahun keberangkatan. #antri

Lembar setoran yang diperoleh sejumlah 4 lembar, 3 lembar copynya harus dikembalikan ke kemenag. Pengembalian harus dilakukan paling cepat 1 hari dan paling lambat 1 minggu setelah pendaftaran. #birokrasi

Pada saat pengembalian ini petugas menginformasikan prediksi tahun keberangkatan, dan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan, salah satunya terkait penggunaan foto. Proses pengembalian lebih cepat dari pendaftaran, sekitar 30 menit beres.
Untuk pengembalian dapat diwakilkan, jadi tidak harus hadir kedua belah pihak suami istri. #closing
Tips : bila anda pekerja kantoran yang waktu kerjanya tidak fleksibel dan kantor kemenag jauh dari kantor anda... untuk urusan ini lebih santai kalau ambil cuti 2 (dua) hari ya...

Dengan mengembalikan lembar setoran ke Kemenag, maka selesailah sudah rangkaian pendaftaran haji untuk mendapatkan nomor porsi. #yaay

Ooo yaaa... prediksi tahun keberangkatan hampir ketinggalan... Sesuai KTP, saya mendaftar di Kemenag Tangsel, dan sesuai informasi petugasnya, untuk pendaftaran di area Tangsel pada Februari 2016 prediksi keberangkatannya adalah... tahun... dengderengdeeeng... 2032... yaaa... 16 tahun antrinya, jadi harus banyak doa semoga Allah mencukupkan umur kami ^_^
Saatnya mulai nabung lagi untuk persiapan BPIH 2 (pelunasan). #sabar

Demikian... semoga infonya membantu dan menginspirasi :)

---

Menuju Allah: perintahnya adalah “Berlarilah”

“Maka berlarilah kalian menuju Allah” (QS. Adz Dzariyat : 50)

Menjemput Rizki (Duniawi): perintahnya adalah “Berjalanlah”

"Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al Mulk: 15)

---

"Mengerjakan haji itu adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (ke-wajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (QS. Ali 'Imran: 97)


--- Pic from Hajj 2015 live report in twitter @Basma_ by Basma Atassi - Al Jazeera

Artikel lainnya :