Sabtu, 18 April 2015

Book review, Jan '15 : Berjalan Di Atas Cahaya

Buku ini saya pilih atas dasar kecintaan saya pada jalan-jalan.

Dengan memiliki rencana travelling, dapat menjaga semangat dalam setiap aktivitas saya selalu ter"maintain" dengan baik :)

Saya ingin tahu aja, hal positif apa yang bisa didapat dari "jalan-jalan" nya mbak hanum dkk saat berkelana di negeri orang

Buku ini dibuka dengan prolog yang dapat menjawab pertanyaan atas judul buku ini, ternyata berasal dari Qs Al Hadid : 28 "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya (Muhammad), niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan serta Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"

Buku ini mengedepankan salah satu hakekat travelling adalah taaruf, dimana pada setiap taaruf itulah cahaya dari Allah, cahaya yang menerangi gelapnya kebodohan, sehingga setiap manusia dapat belajar, menjadi hamba Allah yang lebih baik lagi.

Ada beberapa cerita yang berkesan di buku ini.

Pertama seorang wanita karyawan pabrik yang tinggal di desa ipsach, kota biel, swiss. Dimana kota biel adalah tempat perusahaan jam tangan terkenal swiss, rolex. Wanita berdarah aceh, satu2 nya karyawan berhijab. Desa ipsach dan kota biel yang begitu tenang, kontras dengan hiruk pikuk kota para pengguna jam tangan yang hedonis. Wanita yang punya cita2 mulia kembali ke aceh untuk memajukan aceh, bila masanya telah tiba. Menginspirasi untuk mengaca kembali ke dalam diri, misi mulia apa yang saya miliki di balik hiruk pikuk kehidupan yang saya jalani saat ini.

Kedua adalah kota neerach, tempat tinggal seorang mualaf yang orang tuanya nasrani. Neerach memiliki berbagai kedai kejujuran yang menjual beraneka barang kebutuhan tanpa dijaga oleh penjual, hanya berprinsip kejujuran dan kepercayaan. Kejujuran dan kepercayaan, 2 hal yang harus dipelajari lagi oleh kaum hedonis masa kini. Kota neerach, swiss; bukanlah kota dengan sistem khilafah atau bahkan mayoritas beragama islam, namun prinsip islam digunakan di kesehariannya.

Beberapa pepatah disematkan pada beberapa cerita, di antaranya "the power of the crowd, the danger of the crowd", bahayanya bila kita hanya bisa jadi pengikut orang kebanyakan, tidak punya pendirian, padahal kita tidak tahu pasti apakah yang hakiki pada sesuatu yang kita lihat dari luar. Seperti islam, di buku ini beberapa golongan mengolok islam sebagai "his slam", karena melihat begitu banyaknya peraturan di agama islam, tanpa mengetahui makna dari perintah dan larangan yang ada. Mengingatkan kembali bahwa kita semua muslim adalah public relations bagi agama islam, untuk menunjukkan pada khalayak dengan segala tingkah laku kita, bahwa islam bukan teroris, bukan bom, islam tidak mengekang

Di beberapa cerita mengisahkan betapa berharganya sebuah masjid, seperti di st petersbug rusia, sebuah masjid biru, yang ternyata pada saat pengambilalihannya sebagai masjid ada andil presiden Soekarno, lalu masjid as salam di wina, yang baru terwujud setelah 10 tahun direncanakan. Hal-hal tersebut mengingatkan kembali di indonesia dimana Allah memudahkan pembangunan masjid, namun masjid tidak dimakmurkan.

Selain itu ada fakta yang dikutip di salah satu cerita seorang muslim di rusia, yang menyadari bahwa rezim komunis yang begitu besar akhirnya runtuh, tapi islam yang usianya bahkan berabad2 bukan runtuh melainkan menjadi the fastest growing religion in the world. Ini hanya salah satu tanda kebenaran, tidak punah dimakan waktu. Hal tersebut menguatkan iman saya atas islam.



3 komentar:

  1. Komen di catatan ibu nia ah.

    Ini pertama kalinya baca ulasan yg serius dari ibu satu ini. Foto bukunya gak di upload bu?

    BalasHapus
  2. Hihi, padahal aku ki serius terus lho pak...

    BalasHapus
  3. Sik...sik..maksute Islam tidak mengekang iki opo je :D

    BalasHapus

Artikel lainnya :